 |
Nongki di seputar Alun-Alun Kidul |
Halo,hai met jumpa lagi brow dan sis semua di kelanjutan cerita ku yang kemarin-kemarin yang baru sampe part 1,btw bagi klean yang bingung kok ujug-ujug part 2 bisa klik disini . Hari ini gue mulai up tulisan gue lagi di blog setelah 2 bulanan lebih ga upload, ya dengan kebiasaan yang seperti biasa merenung di kamar dengan kasur yang kian lama kian tipis itu.Oke tanpa banyak basa-basi yang basi langsung kita lanjut aja.
Deeperjalanan
Gue dan temen-temen mulai ada perasaan nyaman dibus yang dingin itu karena sudah dijamin perjalanan kami akan pasti sampai selamat tujuan tetapi tetap di selimuti perasaan insecure karena mengingat track record bus ini yang terkenal dengan ugal-ugalannya hahah. Tapi rasa insecure itu bisa dibendung dengan rasa kantuknya mengingat hari sudah hampir pagi, kalau boleh nunjuk jam itu sekitar jam 1 an dimana jam-jam itu adalah waktu normal tidurnya si Homo Sapiens. Hahah,yaudah deh intinya kita ya tidur dengan diselingi sedikit ngobrol agar bisa sedikit merasa tenang dalam suasana riuhnya suara mesin bus tua dan ontok-ontokannya penumpang aku tertidur dengan pulas di kursi tengah pojok kiri sampingnya ada Ali temanku Fikri, Gandos dibelakang syukurnya mereka tetap kebagian tempat duduk. Di pertengahan perjalanan kira-kira sampai di Klaten aku dibangunkan oleh Ali dia ngode minta kresek dan Minyak angin untuk .... ah pa sti sudah tahulah apalagi kalau bukan mau memuntahkan isi kepala,,ehh perut deng.Ali pertamnanya hanya mengoser-ngoser perutnya dengan minyak itu eh malah si Fikri dan Gandos merebut Minyak angin itu dari Ali maksutku, dia memintanya dengan baik-baik sambil minta Kresek padaku keknya mereka bertiga sudah janjian sebelumnya. Beberapa jam diiringi musik Dangdut kami berempat dan penumpang lainnya tertidur dengan plong, sayup-sayup penumpang turun ke tujuannya masing-masing tapi bus tetap aja rame sampai kami turun di Jogja dan kurasa paling banyak orang tumplek blek pergi ke Jogja, dengan perasaan lega sampailah kami akhirnya di Terminal Bus Giwangan walaupun tanpa iringan lagu Terminal Giwangan dari mbak Nella kami tetap semangat untuk segera menuju ke destinasi selanjutnya, cluenya adalah "tempat ternyaman untuk bermeditasi" yang tentu pasti adalah WC umum Terminal,kami bergantian bermeditasi karena sudah ngempet daritadi.. hazhh ribet tambah bau pesing, pintunya aja gaada kunci.
Kami sampai di Terminal itu kira-kira jam 5 an dan waktu sudah lumayan pagi matahari tak tampak karena tertutup bangunan beton dan berbilah-bilah papan reklame, tubuh kami serasa lembek karena habis diguncang-guncangkan oleh kendaraan malam tadi, don't give a damn yang penting sampai cok.Seperti judul buku "Hidup memang brengsek tapi aku dipaksa menikmatinya" karya mas Puthut, kami mencoba merebahkan badan di lantai terminal dengan berbantal ransel kami yang begitu besar mungkin cukup kali ya untuk menggantikan empuknya bantal di kamarku yang kian menipis itu.Fikri, Gandos terlelap sedangkan Ali melamun perihal rencana selanjutnya. Sudah sejak jauh hari kami sebenarnya sudah janjian sama tetangga kami yang kebetulan mondok di Jogja dan menjadi Hafiz disana yang kebetulan namanya juga Hafidz cuman ada tambahan 'd' nya untuk menampung kami di tempat tinggalnya...loh malah cocoklogi terusss, tanpa banyak cingcong aku lupa gimana ceritanya kayaknya di telpon si Fikri si mas Hafidz itu, selang beberapa jam kami sambil goleran di lantai Terminal beliau tiba menjemput kami di depan Terminal Giwangan dengan pakai motornya yang hanya muat sampai dengan tiga orang penumpang,beruntung kami ada genap jadi bisa adil ketika akan dibonceng untuk menuju TKP.Mas Hafidz menjemput berpakaian ala santri.. sarungan,kemeja kotak-kotak dengan headgear peci hitam di kepalanya dan rambutnya yang lumayan panjang nampak melambai kami berempat, ia dengan sigap menjemput kami. Aku dan Ali diangkut terlebih dahulu sedangkan Gandos, Fikri belakangan aja mengingat mas Hafidz bawanya motor roda dua bukan bawa kereta kelinci.

Aku sudah tidak terlalu excited dengan ambience jalanan kota Jogja ini tapi entah kenapa rasanya selalu berbeda dengan kota ku sendiri entah kenapa ya gatau padahal udah sering ke Jogja, tapi serasa lain aja.Kala pagi jalanan terasa lega walaupun banyak orang yang lalu lalang dan kebanyakan aku lihat pada nyari sarapan pagi.Tak terasa 15 menit kurang lebih perjalanan disambi dengan motor yang meminta minum ke pertamini terdekat kami tiba-tiba sudah sampai aja di persinggahan mas Hafidz beserta kawan-kawannya.Suasana Krapyak sudah kurasakan sejak awal sampai di sekitar Panggung Krapyak, ohya btw persinggahan mas Hafidz ini berada di dekat "Panggung Krapyak" kami sungguh tidak peduli perihal panggung' itu karena kami belum cukup antusias dengan sejarah hmm,padahal kalau saja dikulik pasti menarik sejarah dibalik dibangunnya panggung Krapyak ini. Sayang sekali kami hanya peduli perihal perut kami yang krocongan yang habis diguncang oleh bus tadi malam, haduh haduh naif sekali bukan. Sesampai disana kami disambut oleh beberapa peliharaan kawan-kawan mas Hafidz mulai dari kucing, burung, ikan dan masih banyak lagi tak luput beberapa alat musik pun juga ikut terdampar disana mulai dari ukulele yang sudah hampir pudar warnanya tak luput juga gitar lele yang tinggal beberapa senar juga ikut nimbrung. Kami berempat dipersilahkan masuk ke dalam rumah disana ada beberapa sekat kamar kulihat seperti asrama kebetulan kami disuruh untuk tidur di kamar mas Hafidz, lha aku terus heran bertanya-tanya lha nanti sampean tidur dimana lho mas? ternyata mas Hafidz memilih tidur di Pondok saja.
Kami berempat tidur disitu dan lumayan sempit eg disitu karena dijejali kami berempat, "bangsatt umpatanku dalam hati" oksigen aja rebutan euug sampek tidur aja gabisa aku, njir parah emang tapi ada inisiatif lain untuk mengatasi kesulitan tidur ku dan akupun baru tau ternyata kutemukan disitu ada sebilah jendela kayu di situasi seperti itu yaaa surga lah bagiku dan celakanya jendelanya njelalah memuai dan lumayan agak sulit dibuka, aku memaksanya dan sempat menyerah beberapa saat dan kembali lagi beberapa saat setelah menahan peluh njirr..didalam semakin tidak betah aku paksa akhirnya bisa kebuka syukurlah dalam hati dan diluar jendela lumayan ada ruangan lega untuk lewat dan sesekali untuk menyalakan kompor mini dan memasak... lumayan agak adem rasanya. Setelah tidur yang kurang agak nyaman mas Hafidz menyuruh kami untuk keluar untuk menyegerakan makan walaupun kami agak sedikit sungkan tapi apadaya perut sudah misoh-misoh pol. Ya seentong sego pecel khas Jogja sudah cukup kali ya untuk menunda lapar ditutup dengan pukis yang kami beli didepan dan biar gak tersedak segelas air juga tidak lupa. Hormon Dopamin terpuaskan kami berempat santai sejenak diem-dieman sambil miker di hati masing-masing "lanjut kemana lagi kita nanti?" Mas Hafidz nyeletuk untuk mengajak kita ke Masjid Pondok Krapyak oke kalau kita sih mau-mau aja lah hehe.Kami menyusuri area lingkungan pondok sore-sore kalau ingat waktu itu banyak anak-anak remaja pondok pulang dari mana entah pokoknya banyak yang bawa buku dan tas apa isinya tak sempat kutanya karena sungkan mungkin kalau praduga ku ya pulang dari sekolahnya di pondok Krapyak toh juga sama-sama sekolah "cuman bedanya aku sekolah di tempat yang gak terlalu agamis aja, sliwar sliwer kebanyakan pada pakai sandal dan memakai busana khas negeri Arab tapi tak luput dengan pecinya yang selalu melingkar dikepala para santri walau ada yang kebesaran dan sampai menutupi seluruh dahi tak jarang kulihat para santriwati juga bersliweran kalau itu aku kurang tahu perihal percampuran dalam pendidikan akademis apakah perempuan boleh berbaur sama lelaki atau tidak aku juga tidak sempat menanyakan itu kepada mas Hafidz. Membayangkan ngalor ngidul tengok sana tengok sini tak sadar ujuk-ujuk sudah sampek depan Masjid yang dimaksud mas Hafidz nampak seperti masjid pada umumnya dengan tembok marmer mengkilat kalau dibanding masjid depan rumahku ah sudahlah lewati.Kami diajak keruangan Ta'mir untuk berisitirahat sejenak sambil menunggu Adzan. Kami disana leyeh-leyeh beralaskan karpet ijo khas Masjid dan beberapa orang juga terdapat disana kebanyakan mereka pada "nderes" alias moco Qur'an secara berturut-turut sedangkan kami ngecas HP dan menumpang mandi, sayang sekali dikamar mandi pas kebetulan tidak terdapat air kami akhirnya mengurungkan niat mandi disitu yaudahlah ya mandi ditempat kosnya mas Hafidz tadi aja.Adzan berkumandang tidur tak terlalu jenak dengan alas seadanya membuat kami cepat terbangun dengan suara Adzan kami bukannya menyegerakan ibadah malah ditinggal medsos-an dulu, huh memang dasar anak muda. Setelah Iqamah pun tak kami gubris karena keenakan goleran ditempat Ta'mir tadi kami memutuskan untuk Sholat sendiri-sendiri dan melanjutkan jalan-jalan melihat lantai 2 Masjid lumayan bagus pemandangannya walau tak bagus-bagus amat sih. Oh ya btw,nama Masjid nya itu adalah Al Munnawwir Krapyak Wetan. Kami meninggalkan Masjid itu dengan perasaan gembira tapi di kejutkan dengan sandal yang kami bawa dari rumah malah hilang entah diambil siapa kami lihat tiada yang cocok dengan kepunyaan kami, akhirnya dengan terpaksa juga langsung main ambil kita dengan ukuran yang entah kebesaran, beda warna sudah tidak peduli lagi yang penting pakek sandal.
 |
Dengan sendal yang sisihan dan baju preloved India aku nekat mencintaimu Dik |
Selanjutnya Mas Hafidz ngajakin kami untuk keliling Jogja dengan naik motor lantas mengiyakan tapi juga sedikit skeptis "Ah yang bener?naik motor siapa lagian" ujarku dalam hati tak kusangka di depan ruang takmir tadi ada beberapa motor yang siap untuk dikendarai dengan kunci yang sudah menancap Mas Hafidz mempersilahkan kita untuk memakainya.Ali dan Fikri dibonceng mas Hafidz sedangkan aku berdua sama Gandos.
Ketika langit mulai menuju senja diapit gedung-gedung kota burung-burung mulai bingung mencari juntaian kabel kesana kemari sedangkan kami menembus euforia Jogja dengan deg-degan karena no wearing helmet alias gapake helm.Menjelang sore lalu lintas kota Jogja nampak rame, tujuan kami adalah Alun-Alun Selatan Kota Jogja, fyi berkali-kali aku ke kota Jogja baru kali ini kakiku menapak di Alun-Alun Selatan. Yang disananya terdapat mitos jika melewati 2 pohon kembar niscaya harapanmu akan dikabulkan. Sambil meneguk kopi diselingi cerita-cerita yang ujuk-ujuk haha hihi beralaskan spanduk angkringan tiba-tiba minuman yang kami sruput habis begitu aja, kata apalagi kalo bukan "yok nangdi neh yok?" Mas Hafidz bertanya.

Perjalanan kami berlajut ke Alun-Alun Utara "Lor" Jogja dengan mencari tempat parkir yang aman untuk kendaraan dan kami masukkanlah kendaraan kami di area Masjid Kauman dan sekalian mampir ngadem sejenak lalu lanjut lagi tapi rencananya roda dua kami biarkan disitu tapi sayang area Masjid sebentar lagi akan ditutup jadi mau tidak mau harus parkir di luar okelah lanjut. Setelah motor diparkir diluar kami lanjutkan perjalanan dengan jalan-jalan menikmati Malioboro kala malam. Perjalanan berjalan seperti biasa diselingi berfoto-foto sesekali juga duduk karena capek lalu mengobrol lalu berfoto lagi lalu beli es, ditengah perjalanan tiba-tiba mas Hafidz mengajak kami untuk berbelok sejenak mengunjungi pasar Senthir, terlintas di pikiranku "hah Senthir? apalagi itu?" kalau menurut ilmu sotoy ku kata "Senthir" itu berarti lampu tapi bukan berarti hanya menjual lampu loya! di Pasar Senthir kalian bisa mendapati baju preloved, barang antik, barang bekas, baju baru dengan lapak-lapak sederhana beralaskan spanduk, dinamakan Senthir mugkin karena jualannya hanya malam hari dan so pasti menggunakan penerangan dari lampu.
 |
Berdagang dengan diiringi cahaya "Sethir" adalah keunikan dari pasar Senthir sendiri |
Puas berjalan-jalan di Malioboro kami melanjutkan perjalan ke tempat parkir dengan melawan arus wisatan yang pada menuju arah Malioboro sedang kami kembali ke Alun-Alun Utara "Lor",pulanglah kami ke kosan dengan bangga."
Ohya fyi, kami sebut KOS karena bentuk rumah persinggahan mas Hafidz ini seperti Kosan karena terdiri dari beberapa kamar".
Setengah malam kami habiskan di kosan dan pantang mandi dulu karena keburu dingin yaudahlah ya kita ngobrol chill disana sambil membahas hal remeh temeh dan rencana esook hari tapi mas Hafidz tak luput memberi kita makan yang terdapat di warungnya. Jalanan kian sepi aku menatapnya dengan sinis dan berkata dalam hati "apakah ini jalan satu-satunya adalah tidur?" aku lalu pergi kekamar dan meninggalkan kawanku dan kembali terdiam dikamar 3x4 tadi. Teman-teman datang satu persatu dan tertidurlah mereka bergiliran.
Hari ujuk-ujuk udah ganti aja kami sedikit tidak peduli dengan rencana selanjutnya karena kelelahan dengan fisik dan mental kami yang kemarin udah muter-muter Jogja dan kehilangan sandal.Kami kebangun kesiangan dan mengawali hari dengan memasak apa yang dibawa, kami mulai memasak di balik jendela sempit itu kami nyalakan kompor dan mulai memasak.Dengan perlogistik-an yang seadanya kami nekat memasak.
 |
| Mie,Keju,Kornet adalah koentji |
Setelah makan-makan sampai kwareken kami mulai mandi bergantian dengan teknologi shower paralon yang disediakan kos.Sembari gantian cuci piring kami sempatkan buat kopi.
Barang mulai dipacking satu persatu masuk semua ke tas milik Gandos dengan konsekuensi membawanya secara bergantian. selanjutnya kami mulai berangkat dengan diawali berpamitan dengan kawan-kawan mas Hafidz di kos termasuk mas Hafidz juga. Kami pelan-pelan mulai meninggalkan lingkungan pondok Krapyak setelah berjalan sekitar 2 kilo lebih kami menemukan Jalan raya untuk mencegat bus untuk menuju destinasi selanjutnya di dalam halte bus yang seadanya kami menunggu beserta orang-orang yang entah ingin pulang kepasar lumayan banyak sampek memenuhi haltebus yang sumpek itu,30 menit lebih kami menunggu bus juga tak kunjung datang sempat mau menyerah tapi inilah salah satu upaya untuk menekan biaya, ketika bus kita ghibahin lakok malah dateng dengan warna ijo bertuliskan Trans Jogja membawa kami sampai Terminal Giwangan hanya dengan beberapa transit dan 3.5k /orang murah bukan?. Setelah transit di Giwangan kami mencari air mineral untuk perbekalan kami biar ga dehidrasi dan cukup menambah beban tas milik Gandos, Gandos terasa berat membawanya tapi sebentar lagi kita akan bersandar di kursi bus ekonomis yang sedikit keras gandos masih bersikeras membawa tasnya.Dengan bus milik swasta yang berserakan di Giwangan kami memilih bus yang paling depan agar lebih cepat sampai tujuan. Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Parangtritis dengan Gumuk Pasirnya tak luput mitos nyi roro kidulnya dengan ombak yang cukup besar dan tak dimungkinkan untuk menyelam disana, kami cukup tertarik dengan pantai yang cukup mainstream itu karena aksesnya yang mudah dikarenakan sudah tersedianya transportasi berupa bus yang cukup murah dan bisa balik lagi.
 |
Didalam Trans Jogja yang adem |
Bus Transjogja milik pemerintah kota Jogja yang tadi kami naiki berbanding terbalik dengan Bus Swasta yang membawa kami sekarang ini, Ac telah berganti menjadi Angin Jendelo dan kursi banyak yang bolong dimakan usia.Ekspetasi kami harus kami kurangi karena perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit. Bus membawa kami dengan pelan karena dia sistemnya jemput on the way jadi jalannya agak pelan karena harus mencari cuan di setiap rute yang dilaluinya tidak seperti Transjogja yang hanya berhenti di halte-halte tertentu saja. Didalam Bus kami berempat duduk dikursi paling depan samping sopir kebetulan didashboard terdapat koran kami raih kemudian koran itu buat kami nutupin muka biar ga kena silaunya matahari.Sopir kami sesekali ajak ngobrol eh dia gak asik yaudah cuek lagi liat jalan sampek gak kerasa ternyata udah sampai Terminal Parangtritis aja. Tak banyak Bus berserakan disana mungkin karena sudah pada pergi satu persatu tumplek blek tadi kali ya di Terminal Giwangan. Jam menunjuk pukul setengah 12 a.m WIB tepat kami menapakkan kaki di daerah Parangtritis, tak peduli orang-orang udah pada sampai ke France, Arab, United Kingdom dll sekali lagi kami tidak peduli disini waktuku sudah cukup bahagia dengan suasana yang alakadarnya waktu itu, panas matahari cukup terik belum peduli perihal pakai sunblock ah apalah duit aja belum ada mau beli sunblock, Oh ya fyi untuk tiket bus tadi harganya 20k aja plus udah dapet tiket masuk ke Parangtritis.
Kami mulai memasuki daerah pantai Parangtritis yang gersang itu dan mulailah kami menyusuri pesisir pantainya yang pasti kalian sudah tau tidak perlu kujelaskan panjang lebar kali tinggi, oh ya sedikit gambaran buatmu Pantai Parangtritis ini terletak 23 km dari Kota Jogja dan Pantai ini cukup mainstream sekali dikalangan anak-anak studytour dengan pasirnya yang hitam dan tidak lupa mitosnya konon katanya, jika kalian bawa baju ijo maka siap-siap akan dimakan gulungan ombaknya itu.
Semakin kami jauh berjalan menggeret pasir yang hitam nan menjenuhkan itu kaki tiba-tiba terasa berat kami kesana-kesini mencari tempat teduh sayangnya semuanya payung yang berderet itu berbayar karena uang kami yang cekak akhirnya kami mengurungkan niat dan mencari tempat yang lebih jauh dan lebih tinggi dari pesisir Parangtritis.Alahasil kami dapat tempat dengan kursi dan payung pantainya yang hanya cukup kami bayar dengan es teh sudah bisa mngistirahatkan kaki kami yang terseok.
Disana kami menikmati segelas esteh dan kursi yang cukup lumayan adem dibanding suhu pasir pantai yang terselomot matahari siang hari dan dipayungi dengan payung yang biasanya dipakai untuk jualan pentol cuman bedanya ini dipake dipantai.Hari tak kunjung gelap, dipesisir banyak wisatawan, para pedagang menjajakan dagangannya, persewaan ATV dan jasa kereta kuda tak mau kalah juga sedangkan kami terdampar jauh dibawah payung nampak berandai-andai "jika saja kami dapat menikmati semua yang disajikan" terkesan nampak kemaruk tapi apadaya kami hanya punya beberapa rupiah saja yasudah perandai an semua itu kami lenyapkan dan kami lanjutkan dengan rencana memasak mie kami yang kebetulan dibawa sejak dari rumah, beberapa bungkus mie dengan *merk yang gak terlalu terkenal* itu lumayan buat kami happy dan segelas esteh sudah menaikkan mood kami yang cukup berantakan akibat panasnya terik matahari yang tak kunjung padam itu. Setelah makan kami lanjut santai sejenak dengan keadaan cooking set kotor. Waktu terus berjalan cuaca kian mendukung buat hanya untuk sekedar jalan-jalan di pantai kami ada rencana seperti itu diiringi perasaan tidak enak karena duduk di gazebo itu terlalu lama, akhirnya kami cabut dan mencari tempat yang pas untuk mencuci nesting kami..Gobloknya yang kami pakai nyuci adalah air laut dan pasir saking hematnya kami tidak mau sewa toilet air tawar ya gini ni. Fyi mencuci nesting dengan air asin membuat bahan dari nesting sendiri mudah berkarat aku sebagai pemilik nesting tidak memikirkan hal itupun yang penting bersih aja. Selesai itu kami memasukkan nesting kedalam tas Gandos yang bobotnya agak berkurang karena air tadi kami pakai untuk masak mie dan sedikit meminumnya. Kami lanjutkan perjalanan dan kembali menyusuri pesisir dan mengakhirinya dengan menggelar flysheet di bawah pohon tanpa payung yang lebar lagi entah kenapa hawanya cuman pengen duduk-duduk aja disitu sambil liat suasana pantai sedangkan Fikri dan Gandos memilih untuk keceh alias mencebur ke air pantai.Aku dan Ali santay aja disitu sesekali mencegat bakul jajanan pinggir pantai disana banyak penjual seafood yang digoreng dan dikemas dengan mika aku tertarik meraih undur-undur laut yang hanya dihargai 10k dan beberapa biji udang laut 10k an saja kami berdua menikmatinya dengan lahap di pinggiran pantai dan menyisakannya sedikit untuk Gandos dan Fikri. Gandos dan Fikri puas mereka menceburkan diri ke air laut mereka lalu pergi membilas diri dengan air tawar sedangkan kami yang asyik-asyik bersantai tiba-tiba malah hujan turun kami terpaksa melipat flysheet lagi dan segera berteduh kami meninggalkan Fikri dan Gandos yang asyik membilas tubuh mereka biarkan mereka yang mencari kita. Hujan mengguyur pantai hanya beberapa saat tiba-tiba mereka datang menemukan kami, jalanan aspal becek karena hujan disertai drainase yang buruk kami nekat jalan karena hari kian sore, jadwal bus menjemput sudah habis mau tidak mau suka tidak suka kami kejebak disitu kita kebingungan karena tidak ada tempat bermalam yang cocok, ya sebenarnya hotel pinggiran pantai itu berserakan tapi ya tapi, karena tidak ada duit yauda deh ya urungkan saja niatnya. Tiba-tiba malam menjelang kami mampir disebuah warung pinggir pantai dulu sambil bersebat ria kecuali aku. Dengan uang yang tersisa sedikit kopi dan uang pun tidak menjadi masalah untuk teman malam kita, tapi kita tertahan disitu hanya beberapa jam karena hasrat temen-temen muncul yang lain yaitu ganti menikmati deburan ombak kala malam dan sedikit bermain kejar-kejaran dengan cuyu pesisir sambil salah satu dari kami membawa tas yang lumayan berat karena ketambahan berat dari baju yang basah akibat keceh di pantai tadi. Tapi itu tidak masalah karena sudah konsekuensinya membawa tas gantian dengan beban yang random disertai tubuhku yang gatal-gatal karena ternyata aku ada alergi terhadap seafood aku tetep bersemangat mengejar cuyu. Kami dapat banyak cuyu untuk sekedar melepaskan kebosanan. Cuyu yang kami dapet lalu kami lepaskan lagi dan kami mulai meninggalkan pantai dikarena hari mulai terlalu melelahkan untuk diajak bercanda, gatalku juga tak kunjung hilang sambil mencari tempat bermalam kami kedapatan sebuah pendopo disana dan cukup lapang lah kalo dibuat tidur. Dengan beralaskan lantai yang dingin kami mencoba melelapkan tubuh ini sedangkan tubuhku masih diiringi gatal yang semakin menjalar. Beberapa menit kami tidur kami semua malah merasa tidak nyaman karena tempat itu terlalu terekspos siapa tau membahayakan kami semua nyamuk pun juga banyak sekali itupun sudah cukup membuatku tambah gatal lagi, kami terpaksa pindah ke samping kebetulan terdapat Musholla disitu aja dah kita bermalam.Dengan tubuhku yang gatelen aku tertidur belakangan.
Seperti biasa bangun dengan kesiangan dan lanjut mencari bus untuk kembali ke Pondok lagi btw, tiketnya turun jadi 10k saja karena tadi yang 20k berangkat itu yang 10k nya dipake untuk masuk area wisata, dah gitu aja mungkin ceritanya terima kasih buat yang udah baca sampek bawah.
Komentar
Posting Komentar