Featured post

Sara Di Jogja (bagian 1)

Ali,Fikri,Reza,Roni

    Kembali lagi dengan cerita perjalanan gue yang hazz emboh setelah sekian lama gak update dari dunia per-blogger-an.Suatu kegiatan terkadang terasa enak sekali untuk ditunda-tunda dahulu sebelum terealisasikan begitupun dengan duacuil catatan perjalanan ini yang tak kunjung terbit padahal sudah sering diceritakan di tongkrongan tapi yang versi teksnya baru ada niatan untuk ditulis sekarang di 2021 ini.Karena penulisnya terlalu banyak goleran di kasur ya gini jadinya tak terasa 1 tahun blog terbengkalai.Ah sudahlah monolognya langsung saja aku mau cerita.

    Oh ya tunggu-tunggu intermezzo sedikit mengapa sih judulnya harus "Sara Di Jogja"?  karena aku mengambil kata Sara yang berasal dari basa Jawa itu yang berarti Sengsara nama itu sangat relate di perjalanan menuju Jogja ini menurutku ini sudah termasuk dalam kategori Sara meskipun levelnya paling rendah dibanding pejalan-pejalan lain dan ini akan kubagi 2 bagian karena mungkin akan membosankan kalau kalian bacanya terlalu panjang...HAH SIAPA  SIH YANG MAU BACA BORO-BORO :v .

Awal Mula

    Pada 2019 silam aku chat temanku untuk kuajak ngopi ngobrolin babibu.. apa aja yang penting ngopi dulu aja.Aku dibonceng oleh dia namanya Ali remaja kecil tapi tangguh kalau perkara dunia pengalongan waktu sampai di warkop kebanggaan kami seperti abg pada umumnya kami memesan kopi hitam dengan pasword wifi nya sekalian untuk dibuat download Boke*,eh ga maksutnya cuman buat chit-chat cewe seumuran wkwk.Di pertengahan ngobrol Ali tiba-tiba  tak tau apa diuntung malah mengajakku untuk ke Jogja.Aku memikirkannya dan aku langsung menyetujuinya tapi tanpa rencana apapun sedikitpun.Tiba-tiba aku menimpali "Mosok kur wong 2 tok Bro?ragu aku bro...!"Ali:"Pie nek ngajak Fikrek?"aku tambah mikir lagi karena aku ragu bagaimana kalau kita nanti hanya orang ganjil gimana bila kita sewaktu-waktu berpisah inipun nanti pasti akan menambah pengeluaran lagi karena semakin banyaknya orang yang diajak pasti harus ada dana lebih lagi.Tapi itu hanya pemikiran randomku tetap aku mengangguk-ngangguk saja pada Ali mengingat akupun juga sudah kebelet dolan Ali tampak senang diraut mukanya dan tampaknya ia juga kebelet dolan.Obrolan panjang,jeda mainan hp,nyruput kopi kami lalui di warkop itu tiba-tiba waktu sudah larut malam.Ali mencoba untuk menghubungi Fikri untuk mengajaknya ketemuan di Toserba dekat tempat tinggal kami.Fikri siap-siap saja dan kami berdua melanjutkan untuk menuju checkpoint di Toserba 24 jam terdekat dari tempat tinggal kami untuk menemui Fikri.Eh ditengah perjalanan bodohnya temanku malah nerobos lalu lintas tiba-tiba di belokan jalan raya ada Polisi yang sedang melakukan razia,anehnya razianya dilakukan malam-malam hazz nggak habis pikir aku.Setelah berurusan dengan Polisi kami berdua melanjutkan perjalanan untuk menemui Fikri.

    Fikri sudah berada disana dari tadi ternyata dan kami berdua langsung bercerita terkait razia tadi.Fikri sangat menyayangkan kejadian itu.Kami berlanjut dengan membeli minuman dingin di Toko itu kebetulan disitu sampai 24 jam bukanya.Ditemani minuman dingin kami lanjutkan ngobrol apa aja tapi topik yang diutamakan adalah Perihal menuju Jogjanya lainnya hanyalah obrolan remahan-remahan kerupuk Gombal.Fikri ada inisiatif untuk menyiasati kekurangan dana nanti kita bisa dengan nabung sama-sama sebelum hari-H istilahnya kalau bahasa finansial planner itu dana darurat lah.Kami berdua menyetujui rencana itu dan nanti biar adil kita buatkan list buku untuk menjadwal nabung kami biar konsisten dan terbaca siapa saja nanti yang bolong.Masalah keuangan sudah aman,aku menambahi masalah keganjilan orang tadi bagaimana nanti kalau kita nanti berpisah kan akan sangat tidak adil itu kalau ganjil kalau genap kan bisa dibagi dua "Pie nek ngajak Gandos?"sahut Ali banter,"Yowes rapopo" aku menimpali,Fikri menghisap tembakaunya tampaknya ia setuju-setuju saja.Tak sadar bertiga ternyata sudah larut malam kami mulai dihantui rasa kantuk dan kayaknya pulang kerumah masing-masing adalah jalan terbaik.

Gak Sabar



    Celengan sudah terkumpul,mental sekuat baja sudah terpasang,sempak sudah kami pakai tunggu apalagi kalau gaa berangkat ya sia-sia dong.

    Tak tau hari apa pokoknya di 2019 yang lalu tapi kalau dilihat dari metadata itu tanggalnya ‎Jumat, ‎20 ‎Desember ‎2019,Jam ‏‎23.11.20 WIB seingatku kami berencana berangkat itu malam hari karena opsi pertama kami adalah nebeng kendaraan apapun yang lewat.Anak-anak berkumpul di rumahku dan semuanya memulai packing yang serba riweuh dan tanpa menyisakan sedikitpun ruang di tas kami.Ah sudahlah memang begitu resikonya jika melakukan perjalanan dengan modal tipis.Setelah semua sudah siap kami langsung berjalan kaki untuk menuju jalan raya agar mempermudah opsi kami menebeng.Jalan depan rumah terlihat sepi sunyi hanya nampak kendaraan lewat sesekali tidak mendukung untuk spot nebeng kami mencoba saja langsung berjalan ke jalan raya yang sekiranya satu arah dengan tujuan kami Jl.Raya Solo tepatnya,kendaraan lumayan rame tapi laju lenggang membuat kami mudah untuk menarik perhatian dengan hanya modal jempol dan Sign bertuliskan "NEBENG" wkwkwk banyak yang pake lampu jauh untuk menyorot apa maksud kami tapi ahsudahlah mereka hanya menyilaukan kita nyatanya belum ada yang begitu tertarik haha mungkin takut malem-malem ditebengi,ya sudahlah mungkin sabar adalah kunci terbaik.

    Ahh.. hal apalagi yang melelahkan di dunia ini kalau bukan menunggu,menunggu dan menunggu mungkin sudah 50 kendaraan lebih kami berhasil dapati mereka hanya melengos tak berkutik kami hanya dianggap seperti plang dalem atisudah mengumpat hoalah Su Asu,ya begitulah emosi tak dapat dibendung karena kantuk sudah tak tertahan rasa lapar mulai menggerogoti perut,solusi terbaik apa kalau lapar? "YA MAKANLAH COK"ujar perut kami bergejolak.Beruntung ada didepan kami warung tenda penyetan yang tampaknya akan mau tutup salah dua langsung bergegas kesana untuk membeli makanan memuaskan si perut kita yang lapar tadi,aku sama Ali masih berusaha mengacungkan jempol dan menaikkan sign dan sampai makanan dateng pun masih belum ada yang nyantol.


Makan ga makan sing penting
kumpol jare pak Ustad

    Temanku mau pesen lele penyet eh malah dapet ati akhirnya makan atilah kita semua dan beberapa entong nasi dilahap habis dengan metode muluk ala panutan kita .Kami makan beralaskan kertas minyak beratapkan langit yang tak kunjung pagi,mungkin kalau ujan ya gak kita makan kita balik pulang aja haha beruntungnya hari itu cerah sekali.Setelah makan kami cuci tangan dengan rumput yang basah karena eman-eman nanti air mineralnya kalau cuman buat cuci tangan ya namanya juga keterpaksaan.

    Masih di tempat yang sama kami kesannya malah banyak mengeluh ditulisanku yang atas itu tadi dan memang benar adanya begitu kami mulai mendebatkan perihal transportasi lagi ada yang tetap semangat nebeng,ada yang memilih untuk naik bis aja ada yang manut-manut aja yaa biasalah kalau perbedaan pendapat itu pasti terjadi disela-sela kehidupan kami akhirnya memilih untuk naik bis aja karena mental kami yang sudah down mengingat hari sudah semakin larut takutnya kalau bahaya mengancam kami memilih opsi kendaraan yang sedikit aman...beberapa menit berselang kami mendapat bis ekonomi yang namanya sudah pasaran di lintas Surabaya-Jogja yang sering Lakalantas yaa kalau ga bis itu ya saingannya.

    Kernet membukakan pintu samping depan dengan nada gercep suruh untuk segera naik karena sesuai slogannya di kaca depan "CEPAT" suasana didalam cukup rame padahal itu sudah larut malam dengan lorong untuk menuju ke tempat duduk itu sangat sempit sekali punggungku yang berbalut tas pun sempat tergencet kernet bis,karena kernet harus berlalu lalang untuk menariki karcis sedangkan aku ingin segera dapat tempat duduk  lalu aku terobos aja tuh kernet hora ngurus tiba-tiba "SIGN NEBENG" ku menampar seseorang yang sedang tidur di tempat duduk tanpa sepengetahuanku karena SIGN itu kutaruh di belakang tas dengan posisi horizontal dan akhirnya semua sign itu berceceran di geladak Bis akhirnya sirna sudah harapan nebeng kami kami malam itu. 

...lanjut bag 2

nanti kalau udah terbit aku kabarin tenang aja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keramaian di Puntuk

Backpacker ke Semarang Hanya Bermodal 200 Ribu Rupiah Saja

Cerita Perjalanan ke Bukit Cumbri 638 mdpl